Barangkali, Aku Memang Harus Tumbuh Pelan-Pelan

Dahulu, aku mengira dewasa hanyalah sebuah pintu yang akan terbuka ketika usia mengetuknya
dibaliknya, ku kira segala sesuatu akan menjadi lebih sederhana—mimpi akan mudah diraih,
langkah akan selalu menemukan arah
dan hati tidak lagi gemetar hanya karna dunia berubah lebih cepat daripada kesiapan diri
Namun rupanya, dewasa adalah hutan yang sunyi—tempat jalan bercabang tanpa penunjuk, langkah kadang tertatih, dan luka menjadi guru yang diam-diam mengajarkan alasan untuk tetap berjalan
Pernah kupandang mereka yang tiba lebih dahulu, lalu bertanya kepada langit mengapa jalanku terasa begitu panjang.
Mengapa harapan harus patah berkali-kali, sementara yang lain seolah begitu mudah menggenggam apa yang mereka impikan.
Sampai akhirnya waktu, dengan caranya yang paling tenang, mengajarkanku bahwa tidak semua yang lambat berarti tertinggal
ada pelajaran yang sengaja dipanjangkan agar seseorang sempat tumbuh sebelum menerima apa yang selama ini dimintanya.
Sebab barangkali, jika segala sesuatu datang terlalu cepat, aku hanya akan menerima hasilnya tanpa pernah mengerti harga dari perjuangan yang mengantarkanku kesana
Maka aku memilih tumbuh seperti akar—diam-diam menembus tanah yang keras, bertahan dalam gelap, dan menggenggam bumi ketika badai datang.
Sebab tumbuh bukan selalu tentang berbunga di hadapan banyak mata, melainkan tetap hidup meski tak seorang pun melihat perjuangan kita.
Aku pun mulai berdamai dengan segala yang pernah datang dan kemudian memilih pergi.
Tidak semua yang hilang, harus dicari kembali
beberapa hanya singgah untuk meninggalkan jejak, mengajarkan cara mencintai, kehilangan dan akhirnya melepaskan.
Jika kelak aku sampai pada tujuan yang selama ini hanya berani kutitipkan kepada langit, aku tidak ingin melupakan jalan panjang yang pernah membuatku hampir menyerah.
Sebab di sanalah aku pernah menjadi seseorang yang rapuh,
seseorang yang berkali-kali mempertanyakan dirinya sendiri,
namun tetap memiliki bangkit meski hanya dengan keberanian yang tersisa sebesar ujung doa.
Kini, biarkan mereka berlari dengan musimnya masing-masing.
Aku akan berjalan dengan waktu ku sendiri,
sebab hidup bukan tentang siapa yang lebih dulu tiba,
melainkan tentang bagaimana kita tetap menjadi diri sendiri setelah melewati jalan yang hampir membuat kita kehilangan arah.
Barangkali, aku memang tidak ditakdirkan tumbuh dengan tergesa-gesa
Mungkin, aku sedang dipersiapkan untuk mekar pada musim yang paling tepat,
setelah akar-akar cukup kuat untuk tidak tumbang hanya karna badai datang.
~zsbllaa
zsbllaa_
Penulis & Kontributor Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi • Media Karya Mahasiswa & UKM Pilar Bangsa.
Lihat Semua Tulisan Penulis